Candrabhirawa (Kisah Narasoma) Bag.2

 Dikisahkan pula Dewi Kunti yg melahirkan Karna dan Pertemuan Pandu dgn Kunti, Madrim dan Gandhari

Kisah sebelumnya  Kisah Bagaspati, Pujawati dan Narasoma

 Surya memancar menghangatkan bumi pertanda pagi mulai terang benderang. Sepi lengang di pertapaan Argabelah tidak ada lagi canda tawa dara jelita penghuni kuil, tidak ada lagi senandung syahdu ditepian telaga kecil yg berhias bunga-bunga padma, begitu pun alunan doa rajaresi tidak lagi mengumandang. Argabelah menjadi tempat mati berselimut belukar setelah sepeninggalnya Resi Bagaspati. Satu-satunya ahli waris sang resi telah diboyong oleh putra mahkota Mandaraka. Demikian pengorbanan Bagaspati sbg seorang ayah, ia rela mengorbankan apa saja yg menjadi milikinya, sekalipun nyawa yg harus ia berikan, asalkan sang putri bisa berlayar menempuh harapan kebahagiaan.

Narasoma dan Pujawati telah menetap di Mandaraka, kehadiran mereka disambut hangat oleh keluarga Prabu Mandrapati. Pujawati sangat bersuka cita, kini ia memiliki tempat dan kawan bermain yg baru, hidup di lingkungan istana yg megah, dilayani oleh dayang-dayang yg setia menemani. Dewi Tejawati ibu mertuanya, dan Dewi Madrim adik iparnya sangat menyayanginya, mereka selalu menghibur disaat Pujawati sedih teringat mendiang bopo resi.
Pd suatu hari di Paseban Agung istana Mandaraka, Prabu Mandrapati memanggil Narasoma. Tidak ada orang lain selain mereka berdua, seakan ada rahasia penting yg hendak disampaikan sang prabu kepada putranya.
“Narasoma, saat ini Prabu Basukunti, raja negara Mandura bermaksud ingin menikahkan putrinya, namun ia menginginkan seorang kesatria yg cakap dan tangguh utk dijadikan menantu, maka dr itu ia berencana akan menggelar sayembara. Kepada siapa saja yg dpt memenangkan sayembara, Prabu Basukunti akan menganugerahkan Kunti Nalibrata.
Seperti yg ananda tahu, bahwa Mandaraka dan Mandura masih kerabat baik, dlm darah kita mengalir juga darah mereka, darah bangsa Yadawa. Utk itu ayahanda ingin ananda mengikuti sayembara agar jalinan kekerabatan kita menjadi semakin kukuh. Ayahanda percaya, ananda akan dpt memenangkannya. Kecakapan dan keperkasaan ananda sbg putra mahkota Mandaraka akan dihormati dan disegani oleh raja-raja mancanegara.”
Narasoma tertegun mendengar keinginan ayahandanya. Ia jadi gelisah dan bingung, sebab jika ia mengikuti sayembara dan memenangkannya, maka Dewi Kunti akan menjadi istrinya, sedangkan ia sangat mencintai Pujawati. Apalagi ia sudah berjanji tidak akan menikahi wanita lain selain Pujawati, tetapi jika keinginan ayahandanya tidak dituruti tentu ia akan mendapat kemurkaan dr ayahandanya. Dlm keadaan bingung itu, Narasoma mencoba menjelaskan kepada ayahandanya.
“Ampun ayahanda prabu, sesungguhnya ananda telah berjanji utk tidak menghianati Pujawati. Bahkan, di hadapan bopo Resi Bagaspati, ananda telah mengangkat sumpah tidak akan menduakan Pujawati, apalagi menyakiti hatinya. Sbg seorang kesatria, ananda tidak mugkin menjilat ludah sendiri. Maka dr itu, bukannya ananda menolak mengikuti sayembara, akan tetapi ananda hanya tidak ingin menduakan Pujawati dgn siapapun.”
Prabu Mandrapati mencoba membujuk agar putranya mau mengikuti sayembara, tetapi Narasoma selalu menolak secara halus dan berdalih, membuat Prabu Mandrapati marah karena Narasoma dianggap tidak memiliki bakti kepada orang tua, tidak bisa menyenangkan hati orang tua. Prabu Mandrapati merasa sangat terpukul sehingga menderita sakit. Sejak peristiwa itu Prabu Mandrapati jarang tampil di paseban agung kerajaan, membuat para pembesar dan punggawa istana menjadi khawatir, terlebih keluarga kerajaan sangat prihatin dgn keadaan sang prabu. Dewi Tejawati, istri sang prabu sangat iba melihat suaminya terbaring lemah di pembaringan, begitu juga Dewi Madrim yg selalu menangis di samping ayahandanya, sedangkan Pujawati sendiri sangat tekun mengurusi ayah mertuanya, membantu tabib-tabib istana yg mencoba memberi pengobatan.
Narasoma hanya bisa tertunduk di samping pembaringan ayahandanya. Sebenarnya ia sangat sayang terhadap keluarga, kepada ayahanda, ibunda, adik dan istrinya. Dan ketika sakit ayahandanya tidak juga kunjung sembuh, maka Narasoma memutuskan utk memenuhi keinginan ayahandanya. Ia berbisik kepada sang ayah, berjanji dan meminta restu utk mengikuti sayembara. Hanya kepada Pujawati, Narasoma beralasan ingin mencari tabib sakti utk mengobati ayahanda. Ia segera berangkat menuju negeri Mandura.  
Mandura (Mathura)
Dewi Kunti Nalibrata (Dewi Prita) sebenarnya adalah anak angkat Prabu Basukunti, ia anak dr  Raja Surasena yg juga berbangsa Yadawa, yg berarti masih kerabat dekat Prabu Basukunti sendiri. Dewi Kunti diangkat anak oleh Prabu Basukunti sejak masih bayi, pd saat itu Prabu Basukunti sendiri telah memiliki seorang putra yg bernama Basudewa, namun kemudian setelah ia diberi seorang anak perempuan oleh kerabatnya, dr istrinya, Dewi Dayita putri Raja Boja, Prabu Basukunti dikaruniai seorang putra lagi, bernama Ugrasena.
Alkisah, sebenarnya sayembara yg digelar oleh Prabu Basukunti tidak lain adalah utk menutupi aib yg telah menjadi rahasia keluarga istana. Diceritakan bahwa, Dewi Kunti (Prita) telah mengalami peristiwa yg menggegerkan keluarga istana Mandura. Kisahnya berawal saat negeri Mandura kedatangan seorang pertapa sakti bernama Resi Druwasa dr pertapaan Jagadwitana. Prabu Basukunti memberi tempat kepada sang resi, dan mengangkatnya sbg danghyang ajarya (guru) bg putra-putrinya.
Di istana Mandura, Resi Druwasa sangat terkesan dgn prilaku dan pelayanan Dewi Kunti. Sang dewi sangat santun dan patuh, berbudi pekerti baik, sangat menghormati hidup orang lain, apalagi kepada orang tua dan gurunya. Karena rasa sayangnya itulah Resi Druwasa menganugerahi japa mantra sakti Adityarhedaya kepada kunti Nalibrata, yg mana kegunaan mantra tersebut adalah utk memanggil dewa-dewi kahyangan, sesuai yg dikehendaki.
Dikisahkan pula, setelah Dewi Kunti menerima japa mantra dr Resi Druwasa, ketika ia sedang menyendiri di kaputren, ia sangat penasaran dgn mantra sang resi, walau gurunya telah memberi amanat bahwa mantra tersebut hanya dipergunakan jika benar-benar dibutuhkan. Tetapi, sbg seorang dara yg belum cukup dewasa dan matang, rasa penasaran itu sangat menggoda dirinya utk mencoba mantra tersebut.
Ketika itu Dewi Kunti sedang menyendiri di taman Batachinawi, taman indah berhias seribu bunga. Diantara hangatnya dekapan sinar mentari pagi dan semilirnya angin yg berhembus, Dewi Kunti melantunkan mantra-mantra Adityarhedaya. Seketika ia terkejut melihat taman kaputren menjadi terang benderang bertaburan cahaya. Di hadapannya telah berdiri sosok Batara Surya dgn menggunakan mahkota yg bergemerlapan.
“Apa yg kau inginkan drku, dewi?”
Dewi Kunti terpesona melihat keelokan Batara Surya.
“Hamba hanya mencoba mantra dr guru hamba, Resi Druwasa…”
“Tapi kau telah membacakannya ketika hangat mentari menyinari tubuhmu.”
Sejak saat itu, tidak ada lagi kata-kata terucap dr dua insan yg telah sama-sama terpaut hati, menyelami samudra hati diantara mereka. Dari kejadian itulah, sehingga akhirnya Dewi Kunti berbadan dua, hamil. Dewi Kunti hamil diluar pernikahan, membuat seluruh keluarga istana Mandura menjadi bingung, lebih-lebih Prabu Basukunti yg marah karena merasa malu. Apa yg akan dikatakan oleh rakyat negerinya, juga raja-raja sahabat mancanegara, jika kehamilan putrinya yg tanpa suami itu tersiar. Resi Druwasa sangat prihatin, tetapi juga merasa sangat bertanggungjawab atas peristiwa tersebut. Bagaimanapun, Kunti adalah muridnya, dan ia juga yg telah memberikan mantra sakti kepadanya.
Utk menjaga nama baik keluarga kerajaan, maka dgn kesaktiannya, ketika tiba waktunya Dewi Kunti akan melahirkan putra pertamanya dr Batara Surya, Resi Druwasa mengeluarkan jabang bayi Kunti melalui telinga sebelah kiri. Hal tersebut dimaksudkan agar keperawanan Kunti tetap terjaga.
Setelah putra Surya terlahir, Prabu Basukunti memerintahkan sang dewi membuang bayi tersebut. Dgn perasaan sedih dan berat hati, Dewi Kunti menuruti kehendak ayahandanya. Ia membuang putranya yg telah diberinama Basukarna (karena ia terlahir melalui telinga). Bayi elok yg telah memiliki pusaka pembawaan sejak lahir berupa baju Tamsir Kerei Kaswargan dan anting mustika sakti Pucunggul Maniking Surya itu akhirnya dilarung (dihanyutkan) ke sungai Gangga. Kelak Basukarna ditemukan oleh Adhirata, kusir kerajaan Hastinapura.
Salimbara (Sayembara)
Negeri Mandura telah ramai dikunjungi oleh para kesatria, putra mahkota, dan raja-raja dr seluruh  mancanegara. Pd waktu itu, setiap harinya alun-alun negeri Mandura dipadati oleh rakyat bangsa Yadawa yg ingin menyaksikan jalannya sayembara. Rakyat Mandura ingin menyaksikan sendiri ketangguhan kesatria yg akan memboyong putri sekar kedaton, dewi Kunti Nalibrata.
Singkat cerita, satu persatu para kesatria dan raja-raja mancanegara yg telah menjadi peserta sayembara mencoba memanah seekor burung yg berada dlm sangkar besi. Bentuk sayembara yg diselenggarakan oleh Prabu Basukunti adalah memanah seekor burung yg berada dlm sangkar besi yg diputar sangat kencang. Barang siapa yg mampu memanah burung di dlm sangkar yg berputar, maka dialah yg akan memenangkan sayembara. Satu persatu anak-anak panah yg dilepaskan para peserta sayembara luruh berjatuhan. Panah-panah mereka tidak mampu menembus seekor burung di dlm sangkarnya, sebab jari-jari sangkar besi yg berputar sangat cepat menjadi perisai ketika anak-anak panah itu mencoba menyusup pd celah-celahnya.
Kegagalan para peserta sayembara sempat membuat peserta lainnya menjadi putus asa, beberapa diantara mereka mengundurkan diri, ada yg langsung pulang kembali ke negara mereka, dan ada pula yg masih penasaran ingin ikut menyaksikan tuntasnya sayembara. Baik keluarga raja ataupun rakyat Mandura berharap ada satu diantara mereka yg mampu memenangkan sayembara, tapi lagi-lagi gagal. Telah beberapa hari sayembara digelar, namun belum juga ada peserta sayembara yg memenangkan pertandingan. Hingga tiba giliran peserta terakhir maju ke arena pertandingan, ia tidak lain adalah Narasoma dr Mandaraka. Narasoma mengangkat busur panahnya, mengarah pd sangkar besi yg terletak berjarak puluhan tumbak di hadapannya. Semua yg hadir bertanya-tanya dlm hati mereka, akankah anak panah itu bernasib serupa dgn anak-anak panah sebelumnya yg telah dilepaskan para kesatria tanding sebelumnya? Mampukah Narasoma melakukannya?
Narasoma melepas anak panah dr busurnya tatkala sangkar besi berputar sangat kencang. Ribuan mata masih menatap sangkar yg berputar, yg berangsur-angsur putarannya menjadi pelan. Serentak sorak sorai meriuh, menyoraki kemenangan putra mahkota Mandaraka. Panah Narasoma menembus seekor burung yg berada tepat di dlm sangkarnya. Prabu Basukunti beserta keluarga kerajaan sangat gembira, karena pd akhirnya ada seorang kesatria yg mampu memenangkan sayembara.
Narasoma dielu-lukan oleh rakyat Mandura, ibarat seorang pahlawan perang yg telah memenangkan pertempuran di medan perang. Setelah semuanya mereda menahan kegirangan, Narasoma lalu menghadap Prabu Basukunti di pelataran panggung sayembara, tapi tiba-tiba dr kerumunan penonton sayembara datang tiga orang satria menuju pelataran sayembara, salah satu dr mereka menyatakan ingin mengikuti sayembara. Membuat Prabu Basukunti menanyakan jatidiri mereka.
“Siapa gerangan kisanak bertiga? Berasal dr manakah?”
“Perkenalkan, nama hamba Pandu Dewanata. Ini kakak hamba, kanda Destarata, dan adik hamba Widura. Kami putra Praburesi Abyasa dr negeri Hastinapura. Kedatangan kami tidak lain adalah ingin mengikuti Sayembara Kunti Nalibrata.”
Prabu Basukunti tertegun setelah mengetahui siapa ketiga satria tersebut.
“Oh!.. ternyata kalian dr wangsa Kuru, datang dr jauh ingin mengikuti sayembara. Sungguh sangat disayangkan kedatangan kalian terlambat. Ketahuilah Pandu, sayembara Kunti Nalibrata baru saja usai, dan sayembara telah dimenangkan oleh Narasoma, putra mahkota Mandaraka.”
Para putra Hastina tertunduk setelah mendengar sayembar ditutup karena sudah ada pemenangnya. Kedatangan mereka ternyata terlambat, namun saat ketiganya hendak pamit meninggalakan tempat, tiba-tiba Narasoma menahannya.
“Jika paduka berkenan, biarkan mereka diberi kesempatan utk mengikuti sayembara.”
basukunti narasoma pandu - Candrabhirawa (Kisah Narasoma) Bag.2
Narasoma meminta Prabu Basukunti mengulang kembali sayembara. Dlm pikiran Narasoma, ini adalah kesempatan baik utk menguji ketangguhan putra-putra Hastina. Bukanlah Wangsa Kuru telah tersohor keberbagai negara Mancanegara? Secara turun temurun wangsa itu telah disegani kawan dan ditakuti lawan, tapi itu leluhur mereka yg terdahulu, dan ia hanya mendengar cerita. Dan sekarang, apakah ketiga kesatria Hastina itu setangguh para pendahulunya. Ini adalah waktu yg tepat utk menguji kemampuan mereka, apakah mereka memiliki kemampuan melakukan hal yg sama dgn dirinya? Kesatria dan raja-raja mancanegara sendiri tidak ada yg sanggup melakukannya. Begitulah yg ada dlm pikiran Narasoma, ia hendak bermaksud mempermalukan para kesatria Kuru. Narasoma pun nampak kesombongannya setelah dielu-elukan, ia sangat suka dipuji.
“Apa maksudmu Narasoma? Kau yg telah memenangkan sayembara, dan aku tidak mungkin merubah peraturan!”
“Kalau begitu, biar hamba yg membuka sayembara baru utk mereka. Karena Kunti Nalibrata telah menjadi hak hamba, maka hamba berhak membuat keputusan atas Kunti.”
Prabu Basukunti sangat tersinggung dgn perkataan Narasoma, walau memang betul Kunti Nalibrata telah menjadi haknya karena telah memenangkan sayembara, tetapi Narasoma dianggap tidak menghargai orang lain, bahkan menghormatinya sbg raja Mandura, sekaligus bakal menjadi mertuanya. Tapi mengingat Narasoma adalah putra Prabu Mandrapati yg menjadi sahabatnya sekaligus masih memiliki hubungan kekerabatan darah Yadawa, maka Prabu basukunti mencoba menahan diri, membiarkan Narasoma melakukan kemauannya. Toh, segala kesombongan tidak akan berakhir baik.
“Aku memberi kesempatan pdmu utk mengikuti sayembara, tapi dgn satu pertaruhan, jika kau mampu melakukan apa yg telah aku lakukan pd sayembara tadi, maka Kunti Nalibrata akan aku serahkan pdmu, tapi jika kau tidak mampu melakukannya, maka negeri Hastina menjadi negeri taklukan Mandaraka.”
Semua yg hadir terkejut mendengar perkataan Narasoma, termasuk Prabu Basukunti. Tetapi  para kesatria Kuru masih bersikap tenang, mereka seolah tidak terpengaruh oleh tantangan Narasoma.
“Kedatang kami ke Mandura hanya ingin mengikuti sayembara yg digelar oleh Prabu Basukunti. Adapun sang prabu telah menutup sayembara karena kau telah memenangkannya, maka kami pun akan turut undur diri, kami tidak menginginkan hal lain yg akan menimbulkan perkara.”
Pandu Dewanata lalu memberi hormat kepada Prabu Basukunti dan mengajak kedua saudaranya beranjak pergi meninggalkan Mandura, tapi Narasoma malah mengejeknya.
“Apa kau takut menghadapi tantangan, Pandu? Bukankah kalian putra-putra Hastina yg tersohor itu? Aku kira kau memiliki sifat gagah berani seperti leluhurmu, Baharata. Apakah kesatria terhormat seperti Bhisma Dewabrata tidak mengajarimu keberanian sbg seorang kesatria? atau ayahmu tidak membekalimu?
Kata-kata Narasoma sangat merendahkan di depan khalayak ramai, membuat telinga Pandu menjadi panas. Terlebih Destarata, kakak Pandu yg tunanetra itu giginya gemeretakan menahan marah. Diam-diam Destarata merapal aji Kumbalageni, namun Widura membisikinya, agar sang kakak bisa menahan emosi.
“Apakah kau membiarkan orang lain menghina leluhur kita, Pandu?” berkata sang Destarata kepada adiknya, sehingga akhirnya Pandu Dewanata menyanggupi tantangan Narasoma.
“Aku tidak pernah menolak tantangan, Narasoma! Jika itu yg menjadi pertaruhanmu, aku tidak menolak!”
Masih disaksikan oleh ribuan rakyat Mandura, para kesatria dan juga raja-raja mancanegara, sayembara kembali digelar. Pandu Dewanata berdiri di tengah gelanggang, gondewa dan anak panahnya telah siap dlm genggaman. Tatkala sangkar besi mulai diputar kencang, Pandu membidik sasarannya. Panah melesat cepat mengarah sasaran, begitu kuatnya tenaga yg mendorong anak panah sehingga sangkar besi terlepas dr tiang pancang. Semua yg hadir tercengang dan berdecak kagum. Pandu tidak hanya mampu melakukan seperti yg dilakukan Narasoma, lebih dr itu, selain panah Pandu mampu menyusup jari-jari besi dan menembus seekor burung di dlm sangkarnya, ia pun sekaligus mampu menjatuhkan sangkarnya. Sorak sorai terdengar mengumandang, memuji kehebatan Pandu Dewanata.
Narasoma tidak menyangka Pandu mampu melakukannya, dan dgn sangat malu Narasoma akhirnya menyerahkan Kunti Nalibrata kepada Pandu, ia kemudian pergi meninggalkan Mandura. Kini Dewi Kunti telah menjadi milik Pandu Dewanata. Prabu Basukunti merasa sangat senang, tidak disangka akhirnya ia akan berbesan dan menjalin kekerabatan dgn Hastinapura. Keesokan harinya, setelah mendapat restu dr Prabu Basukunti, Pandu Dewanata memboyong dewi Kunti utk dibawa ke Hastinapura.
Saat menuju perjalanan pulang, di tengah perjalanan, masih dlm wilayah negara Mandura, rombongan Pandu Dewanata terhenti. Pandu menghentikan laju kereta kencananya ketika di hadapanya telah menghadang seorang kesatria penunggang kuda. Kesatria itu tidak lain adalah Narasoma. Ternyata putra Prabu Mandrapati tidak benar-benar meninggalkan Mandura, ia tidak langsung pulang ke Mandaraka. Setelah kemarin meninggalkan gelanggang sayembara, di tengah perjalanan pulang, Narasoma merasa bimbang. Ia teringat ayahandanya, Prabu Mandrapati yg sedang terbaring sakit. Apa yg akan ia katakan di hadapan ayahandanya nanti. Apakah ia harus bercerita dusta dgn mengatakan ia kalah dlm pertandingan sayembara? Atau menceritakan terus terang bahwa kemenangannya telah digadaikan utk sebuah pertaruhan? Semua itu hanya akan memperparah sakit ayahandanya, maka dr itu Narasoma memutuskan utk tidak langsung pulang ke Mandaraka, ia berbalik arah menghadang Pandu.
“Kenapa kau menghadang perjalananku, Narasoma?”
“Pertaruhan kemarin kurang menguntungkan buatku, Pandu. Aku ingin kau mengulang kembali pertaruhan itu. Kita tanding jurit! Jika aku yg menang, maka kau serahkan kembali Dewi Kunti kepadaku, tapi jika aku yg kalah, aku akan menyerahkan adiku, Dewi Madrim kepadamu.”
“Silahkan, kau yg memulai Narasoma…”
Keduanya lalu terlibat perang tanding. Narasoma menggempur Pandu dgn serangan yg begitu mematikan, dan Pandu mengimbanginya. Pertempuran mereka sangat seimbang, sama-sama digjaya, sama-sama menguasai ilmu kanuragan, dan senjata. Terkadang Pandu Dewanata terdesak oleh serangan Narasoma yg dilancarkan secara bertubi-tubi, begitu pula sebaliknya. Narasoma sempat dibikin kerepotan dgn serangan balik yg dilancarkan Pandu.
Perang semakin menjadi, daya-daya kesaktian mereka memporak porandakan sekitarnya. Tanah batu berhamburan, pohon-pohon tumbang dan terbakar. Dan ketika keduanya beradu pukulan sakti, Narasoma terpental jauh dan jatuh terpelanting. Darah segar menyembur dr mulutnya, dadanya berdenyut sakit. Saat itu amarahnya kian menjadi, ia pun lalu ingin menjajal kesaktian Chandrabhirawa. Tapi sesaat ketika Narasoma hendak membaca mantra Chandrabhirawa, ia teringat pesan mendiang mertuanya, Resi Bhagaspati.
“Narasoma… Aji Candrabhirawa sangat ampuh, namun aji kesaktian itu akan sangat tidak bertuah jika hanya dipergunakan utk mengagungkan nafsu diri dan keserakahan.
Jaga dan rawatlah Setyawati, kasih sayangilah dia, cintai dia dgn sepenuh kasih sayang. Janganlah kau sia-siakan dia, walaupun dia hanya seorang anak gadis gunung yg jauh dr suba sita dan kekurangan tata pergaulan kerajaan, tetapi dia anak yg baik, patuh dan sangat setia kepadamu. Pegang teguh janjimu, Narasoma…”
Kata-kata Resi Bagaspati mengiang di telinganya, seolah sang resi membisikan langsung kepadanya, mengingatkan sumpahnya. Narasoma sangat terganggu karenanya, ia mencoba melupakan dan tidak memperdulikan, amarahnya sudah terlanjur berkobar. Ia segera merapal aji Chandrabirawa. Sekejap, di hadapannya telah berdiri sosok raksasa cebol dgn seringai taring yg terlihat menyeramkan.
“Chandrabirawa! Binasakan musuhku!”
Raksasa Chandrabirawa segera melaksanakan perintah tuannya, ia menyerang Pandu secara membabi buta. Mendapat serangan demikian, Pandu segera mengeluarkan pusaka Chandrasa.
Cras! Cras! Cras!
Beberapa kali pusaka Pandu melukai tubuh Chandrabirawa. Darah bercipratan keluar dr tubuh Chandrabirawa. Ajaib! setiap percik darah yg membasahi tanah bebatuan dan rerumputan berubah wujud menjadi raksasa cebol yg bentuk dan rupanya sama persis dgn Chandrabirawa. Tanpa diperintah, raksasa-raksasa jelmaan itu menyerang Pandu secara serentak. Pandu terkejut melihat keanehan yg terjadi pd musuhnya, beberapa kali ia mencoba membinasakan raksasa-raksasa jelmaan Chandrabirawa dgn pusakanya, tapi Chandrabirawa justru semakin byk jumlahnya. Pandu menjadi kerepotan menghadapi musuh yg bertambah byk jumlahnya, ia hanya berkelit, menangkis, dan menghindari serangan, ia tidak lagi melukai raksasa jejadian Chandrabirawa karena akan semakin bertambah byk.
“Duuh… ayahanda Resi Abyasa… ayahanda Bhisma… putramu keteteran menghadapi musuh-musuh ini…”
Pandu membatin. Ia merasa putus asa menghadapi Chandrabirawa. Dan pd saat-saat yg kritis, Pandu mendapat bisikan ghaib dr ayahandanya, Resi Abyasa. Pandu dititah melakukan hening cipta, memusatkan segala nafsu murni dgn berpasrah diri kepada Yg Maha Tunggal.

pandu+vs+candrabirawa - Candrabhirawa (Kisah Narasoma) Bag.2
Raksasa-raksasa Chandrabirawa kebingungan ketika melihat musuhnya tidak melakukan apa-apa, diam tak bergerak. Naluri mereka pun mengisyaratkan seperti tidak ada nafsu pd diri seseorang yg menjadi lawannya. Dlm keadaan seperti itulah secara serta merta raksasa-raksasa Chandrabirawa berkurang jumlahnya, terus dan terus berkurang sehingga kembali menjadi satu wujud Chandrabirawa.
Chandrabirawa melesat kembali masuk ke dlm gua garba Narasoma. Candrabhirawa berkata kepada Narasoma agar tidak mempergunakannya melawan orang-orang yg tidak memiliki nafsu angkara. Pandu tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera menerjang Narasoma yg sedang dlm kebingungan. Putra Mandaraka terbanting dan jatuh terkapar saat pukulan-pukulan Pandu beruntun menghantam dirinya, dan ketika Narasoma tertaih mencoba bangun, ujung pusaka Pandu telah mengancam di hadapannya. Akhirnya Narasoma menyerah, dan berjanji akan memboyong Dewi Madrim ke Hastinapura.
Pandu beserta rombongan kembali melakukan perjalanan pulang ke Hastinapura. Di tengah perjalanan ia kembali dihadang. Kali ini yg menghadangnya adalah Harya Suman, putra Prabu Suwala dr negeri Gandhara. Harya Suman yg juga telah terlambat mengikuti sayembara segera mengejar perjalanan Pandu Dewanata.

sengkuni pandu - Candrabhirawa (Kisah Narasoma) Bag.2

Harya Suman dan Pandu kemudian terlibat perang tanding, tetapi pertarungan itu tidak memakan waktu cukup lama. Putra mahkota Gandhara bukanlah lawan tanding yg tangguh bg Pandu, dgn mudah Pandu dpt membuat Harya Suman tidak berdaya. Harya Suman menyerah dan berjanji akan memboyong kakaknya,  Dewi Gandhari ke Hastinapura.
“Aku pegang janjimu, jika kau berdusta, maka Hastinapura akan meluluh lantakan negerimu!”
Hastinapura mendapatkan tiga putri boyongan, Dewi Kunti dr negara Mandura, Dewi Madrim dr negara Mandaraka, dan Dewi Ghandari dr negara Gandhara. Ketiga putri tersebut awalnya akan dipasangkan dgn Destarata, Pandu Dewanata, dan Widura, akan tetapi Widura menolak. Ia beralasan ketiga putri tersebut usianya tidak sepadan dgn dirinya, maka Widura memberikan haknya kepada Pandu, karena Pandu yg telah byk berjasa dlm memenangkan sayembara.
Utk menghargai Destarata sbg putra tertua, Pandu memberi kesempatan kakaknya memilih satu diantara ketiga putri tersebut. Dlm hati ketiga putri itu sendiri sebenarnya mereka menolak dijodohkan dgn Destarata yg tunanetra, apalagi tahta Hastina akan diwariskan kepada Pandu Dewanata, maka ketiganya memanjatkan doa agar tidak terpilih oleh Destarata.
Dewi Gandhari dgn dibantu adiknya, Harya Suman mencoba membaluri tubuhnya dgn bau hanyir ikan dgn maksud agar dirinya tidak terpilih oleh Destarata. Tetapi, Destarata yg selalu menggunakan naluri, menggunakan indra penciumannya dlm memilih, saat ia mencium bau hanyir ikan yg berasal dr tubuh Gandhari, bau hanyir itu justru mengingatkannya pd panggang ikan yg menjadi mknan kesukaannya, maka Destarata memutuskan jatuh pilihannya kepada Dewi Gandhari.
Pandu Dewanata kemudian naik tahta menjadi raja Hastinapura menggantikan Praburesi Abyasa (Prabu Krisna Dwipayana) yg mandita di Wukir Retawu. Ia memiliki dua permaisuri yaitu, Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Kelak dr rahim kedua putri tersebut akan lahir kesatria-kesatria utama, Pandawa Lima. Dari dewi Kunti akan lahir Yudhistira, Bima, dan Arjuna, sedangkan dr rahim Dewi Madrim lahir Nakula dan Sadewa.
Sementara, Narasoma sendiri telah dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya, Prabu Mandrapati yg telah meninggal setelah mendengar kegagalan putranya dlm merebut sayembara. Narasoma menjadi raja Mandaraka dgn gelar Prabu Salyapati. Dari rahim Pujawati, Narasoma dianugerahi lima orang anak, yaitu ; Dewi Erawati (kelak menjadi istri Baladewa), Dewi Surtikanti (kelak menjadi istri Basukarna), Dewi Banowati (kelak menjadi istri Duryudhana), Bhurisrawa, dan Rukmarata. Hanya saja, salah satu putra Narasoma/Prabu Salya yg bernama Bhurisrawa berwajah buruk seperti raksasa. Ini dikarenakan dahulu Narasoma merasa jijik mempunyai mertua seorang raksasa.

Loading...

Tags: #bag.2 #Candrabhirawa #Kisah #Narasoma

author
Author: 
    Gak Disangka, Ternyata Dr Tirta Seorang Mualaf! Masuk Islam Setelah Dpt Pesan Ini Lewat Mimpi!
    slidegossip.com – Salah satu nama yg sering jadi perbincangan di masa pandemi covid-19
    Mantan Suami Nikah Lagi Dgn Artis Cantik, Nasib Istri Pertama Kini Malah Jualan Seprai Utk Bertahan Hidup!
    slidegossip.com – Sejak menikah dgn artis cantik Kartika Putri, sosok Habib Usman bin
    Apes Banget! Nekat Mudik dr Jakarta, Sekeluarga Malah Jadi Gelandangan di Kampung Gara-Gara Ini!
    slidegossip.com – Pemerintah sudah mengimbau para warga agar tidak mudik dulu di masa
    Diramal Sering Diperkosa Oleh 3 Genderuwo, Lalu Vanessa Angel Kini Hamil Anak Siapa?
    slidegossip.com – Kabar mengejutkan datang lagi dr artis sensasional Vanessa Angel. Di tengah

    Comments are closed.